Bukittinggi – Pemerintah Kota Bukittinggi berupaya menjadikan kota itu sebagai Kota Perjuangan di tingkat nasional. Upaya ini dilakukan karena kekhawatiran akan hilangnya pengetahuan sejarah di kalangan generasi muda.
Wali Kota Bukittinggi, H.M Ramlan Nurmatias, bertemu dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubowono X, pada 12 Agustus 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk mendapatkan dukungan agar Bukittinggi diakui sebagai Kota Perjuangan.
“Hubungan tiga kota penting pada masa mempertahankan kemerdekaan adalah Jakarta, Yogyakarta, dan Bukittinggi,” kata Ramlan Nurmatias.
Inisiatif ini bermula dari poster yang dipasang saat peresmian Jalan Haji Usmar Ismail pada 29 April 2025. Sejak saat itu, narasi Kota Perjuangan melekat pada setiap kegiatan di Bukittinggi.
Tulisan “Bukittinggi Kota Perjuangan” terpampang di berbagai tempat di kota, mulai dari sekolah hingga spanduk anggota dewan.
Sutradara film dan pecinta sejarah, Arief Malinmudo, percaya bahwa langkah Pemkot Bukittinggi ini dapat menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap nilai sejarah kota.
“Kota bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat tumbuhnya pemikiran,” ujar Arief.
Bukittinggi memiliki peran penting sebagai Ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Bung Hatta juga pernah berkantor di kota ini selama tujuh bulan.
Saat agresi militer pertama Belanda, Bung Hatta memilih Bukittinggi sebagai tempat berlindung. Di kota ini, ia membentuk panitia pembelian pesawat pertama Republik Indonesia.
Selain itu, Bung Hatta juga mempersiapkan Bukittinggi sebagai benteng terakhir jika terjadi kekacauan di Pulau Jawa.
“Bukittinggi bukan hanya kota yang indah, tetapi juga tempat strategi kebangsaan dirumuskan,” pungkas Arief.












