Padang – BTPN Syariah melaporkan pertumbuhan laba bersih sebesar 13 persen pada tahun 2025, mencapai Rp1,2 triliun, didorong oleh strategi pendampingan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat inklusi. Bank meyakini bahwa pendekatan ini tidak hanya memberikan akses keuangan, tetapi juga akses pengetahuan yang krusial untuk meningkatkan taraf hidup nasabah.
Fokus utama dari pendampingan BTPN Syariah adalah penguatan empat perilaku utama yang dikenal dengan BDKS: Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu. Perilaku ini dinilai penting untuk membantu masyarakat inklusi menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Menurut Fachmy Achmad, Direktur BTPN Syariah, model bisnis pendampingan yang dijalankan terbukti relevan dan berkelanjutan dalam melayani masyarakat inklusi. “Model bisnis pendampingan yang kami jalankan terbukti relevan dan berkelanjutan dalam melayani masyarakat inklusi,” ujarnya.
Community Officer (CO) memainkan peran sentral dalam implementasi strategi ini. Mereka bertindak sebagai garda terdepan, memberikan pendampingan langsung kepada nasabah melalui Pertemuan Rutin Sentra (PRS). Dalam pertemuan ini, CO memberikan modul yang relevan dengan kondisi ultra mikro, serta menjadi contoh dalam menerapkan perilaku unggul BDKS.
Sepanjang tahun 2025, BTPN Syariah juga telah menyelenggarakan berbagai program apresiasi dan insentif untuk memperkuat semangat nasabah dalam menerapkan empat perilaku unggul, terutama dalam membangun solidaritas di sentra nasabah. “Alhamdulillah, bank berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp1,2 Triliun. Kami berharap fokus Bank dalam membangun perilaku unggul dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Fachmy Achmad.
Selain fokus pada pendampingan, BTPN Syariah juga memberikan perhatian khusus kepada nasabah di Sumatera yang terdampak bencana hidrometeorologis, dengan menyediakan berbagai program bantuan untuk mendukung pemulihan nasabah dan komunitas sekitar.
Penyaluran pembiayaan BTPN Syariah mencapai Rp10,35 triliun sepanjang tahun 2025. Bank juga mencatatkan rasio keuangan yang kuat, dengan Return on Assets (RoA) sebesar 7,2 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 57,7 persen.











