Jakarta – BRIGHT Institute menilai ketahanan ekonomi Indonesia berada pada level yang rendah dan cenderung rapuh, berpotensi memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi signifikan hingga gagal bayar utang sebagian pada 2026-2027. Lembaga tersebut menyoroti kondisi makroekonomi yang lemah, ruang kebijakan fiskal yang sempit, dan kebijakan moneter yang tidak leluasa sebagai indikasi utama.
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi kemungkinan masih di kisaran 5 persen, namun berisiko turun drastis hingga 2,5 persen pada 2026 dan 2027. “Tidak mustahil, Indonesia akan mengalami gagal bayar sebagian kewajiban utangnya pada semester dua tahun 2026 atau semester satu 2027,” ujarnya dalam siaran pers, Senin, 29 Desember 2025.
Menurut Awalil, risiko penurunan itu disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang terus menurun seiring meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) dan informalisasi pekerjaan. Kemudian, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dan ekspor belum memperlihatkan pertumbuhan yang memadai.
Kondisi fiskal juga menjadi perhatian serius. Pendapatan perpajakan sulit ditingkatkan karena lesunya perekonomian, sementara ambisi belanja pemerintah terus membesar akibat berbagai program prioritas dan birokrasi yang gemuk.
Awalil menambahkan, melebarnya defisit anggaran makin sulit dicegah, berujung pada kebutuhan berutang yang semakin besar. Beban utang pemerintah disebutnya semakin berat, dengan debt service ratio melebihi 40 persen dan bunga yang mencapai hampir 20 persen.
Di sisi global, Awalil menyoroti kondisi perekonomian dunia menghadapi ancaman stagflasi, yaitu stagnansi ekonomi dengan inflasi tinggi. Bahkan sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Cina menghadapi risiko perlambatan ekonomi dan peningkatan pengangguran. Kombinasi ketahanan ekonomi yang relatif rapuh dan ketidakpastian keuangan global yang tinggi ini membuat risiko bagi Indonesia cukup tinggi.
Pandangan ini kontras dengan optimisme yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelumnya, Purbaya meyakini pertumbuhan ekonomi akan sesuai target, yaitu 5,2 persen pada 2025 dan 5,4 persen pada 2026, bahkan bisa mencapai 6 persen tahun depan.
Purbaya mengklaim mesin ekonomi, baik dari fiskal maupun moneter, sudah berjalan. Pemerintah juga tengah berupaya memperbaiki iklim investasi. “Saya tetap melihat 6 persen bukan angka yang mustahil untuk tahun 2026, walaupun asumsi kita di 5,4 persen,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Kamis, 18 Desember 2025.











