Jakarta – Dua warna, brave pink dan hero green, kini menjadi simbol perlawanan di ruang publik Indonesia. Warna-warna ini merepresentasikan keberanian dan pengorbanan.
Fenomena ini bermula dari dua kisah nyata. Seorang perempuan bernama Ana mengenakan jilbab merah muda saat demonstrasi.
Kisah lainnya adalah Affan, seorang pengemudi ojek online yang tewas saat unjuk rasa dengan jaket hijau kebesarannya.
Jilbab merah muda Ana kini dikenal sebagai brave pink, simbol keberanian seorang ibu. Jaket hijau Affan menjadi hero green, lambang pengorbanan anak bangsa.
Pakar komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi, menyebut warna sebagai identitas kolektif. Warna menjadi bendera tak kasatmata yang menyatukan ribuan orang.
Penggunaan simbol sebagai cara menyampaikan pesan bukan hal baru. Bendera bajak laut Topi Jerami dari anime One Piece sempat viral sebagai kritik terhadap pemerintah.
Namun, brave pink dan hero green hadir dengan cara yang lebih halus. Warna melekat pada tubuh, kain, dan layar gawai, menjadikannya perlawanan yang lebih luas dan inklusif.
Simbol-simbol ini lahir dari kejadian sehari-hari, dari orang biasa yang terdorong ke tengah pusaran peristiwa. Masyarakat kemudian menafsirkan, merayakan, dan menyebarkannya.
Brave pink dan hero green bukan lagi milik Ana atau Affan. Warna-warna ini menjadi milik semua orang yang ingin menyuarakan keresahan.
Perlawanan dengan warna menyimpan paradoks. Ia lembut sekaligus keras, sederhana sekaligus sarat makna. Warna adalah harapan bahwa perjuangan tak selalu harus dengan kekerasan.












