Jakarta – Bank Mandiri mengungkap sejumlah faktor yang menghambat penyaluran kredit, meskipun likuiditas perbankan telah membaik. Ketidakpastian ekonomi global dan domestik membuat pelaku usaha bersikap *wait and see*.
Undisbursed loan masih tinggi, berada di kisaran 25-29 persen. Kredit modal kerja, yang mendominasi 53 persen portofolio kredit, melambat karena pelaku usaha menunda ekspansi akibat *outlook* ekonomi yang belum solid.
Suku bunga kredit yang tidak turun secepat BI Rate turut memicu rendahnya minat kredit. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat bank lebih selektif dan memilih debitur berisiko rendah. Segmen UMKM juga masih tertekan.
Banyak perusahaan memilih melunasi pembiayaan internal daripada mengajukan kredit baru. Meski demikian, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro optimistis prospek penyaluran kredit akan membaik.
Stabilitas geopolitik global, pelemahan dolar AS, dan pelonggaran moneter domestik diperkirakan mendukung arus modal dan permintaan kredit. Perbaikan belanja pemerintah dan inflasi yang terkendali juga menjadi pendorong daya beli dan kredit konsumsi.
“Memasuki 2026, arah kebijakan pemerintah sudah semakin terang. Sepanjang semester II 2025, kebijakan yang ditempuh terlihat jelas, sehingga memasuki 2026 sudah ada kejelasan,” kata Andry, Kamis (4/12/2025). Konsistensi kebijakan fiskal pemerintah diharapkan menjadi dorongan bagi ekspansi kredit.
Data Bank Mandiri menunjukkan pertumbuhan kredit Oktober 2025 melambat menjadi 7,36 persen *year-on-year* (yoy), dari 7,70 persen yoy, atau 4,96 persen *year-to-date* (ytd), lebih rendah dibandingkan 7,04 persen ytd pada periode yang sama tahun lalu.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,48 persen secara tahunan, didorong oleh akses likuiditas dari sektor swasta serta insentif pemerintah dan Bank Indonesia. Likuiditas perbankan tetap stabil, tercermin dari *Loan to Deposit Ratio* (LDR) yang berada di level 84,26 persen.











