Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih sebesar Rp 24,5 triliun sepanjang semester I 2025, turun 7,7 persen dari periode yang sama tahun lalu. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian Rp 26,5 triliun pada paruh pertama 2024.
Meskipun demikian, Bank Mandiri mencatatkan kenaikan aset dari Rp 2.427,2 triliun menjadi Rp 2.514,6 triliun pada Juni 2025. Kondisi ini didukung oleh penyaluran kredit yang tumbuh 11 persen secara tahunan, melampaui rata-rata industri.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menegaskan komitmen manajemen untuk menjaga likuiditas tetap sehat. “Kami akan dorong dengan menumbuh DPK di atas industri,” ujarnya dalam paparan kinerja kuartal II 2025 secara daring pada Jumat, 19 September 2025.
Sepanjang semester I 2025, Bank Mandiri telah menyalurkan total kredit sebesar Rp 1.701 triliun. Perseroan juga berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 1.829 triliun, atau tumbuh 10,7 persen secara tahunan.
Pendapatan bersih dari bunga dan syariah Bank Mandiri tercatat sebesar Rp 52,3 triliun, meningkat dari pendapatan Rp 49 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Liabilitas perseroan juga meningkat dari Rp 2.143,4 triliun menjadi Rp 2.247,8 triliun.
Sementara itu, total ekuitas Bank Mandiri ikut meningkat dari Rp 2.427,2 triliun menjadi Rp 2.514,6 triliun. Adapun, laba bersih per saham Bank Mandiri turun dari Rp 284,47 menjadi Rp 262,02 per Juni 2025.
Hingga Juni 2025, Bank Mandiri turut menyalurkan pembiayaan untuk tiga program prioritas pemerintah. Ini mencakup Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 23,9 triliun, serta Rp 773,9 miliar untuk Program 3 Juta Rumah. Selain itu, sekitar 1.500 akun virtual telah disalurkan untuk Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).











