JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan Bank Jakarta belum masuk dalam daftar rencana penawaran umum perdana saham (IPO) tahun 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna.
Nyoman menjelaskan, dari daftar pipeline yang ada saat ini, nama Bank Jakarta belum tercantum. BEI mencatat, jumlah perusahaan yang masuk dalam antrean IPO saat ini masih sekitar tujuh emiten.
“Saat ini di pipeline kami masih sekitar tujuh perusahaan. Kami belum ada nama bank tersebut,” ujar Nyoman, Selasa (30/12/2025).
BEI tetap membuka peluang bagi seluruh sektor industri untuk melantai di pasar modal, termasuk sektor perbankan, sepanjang memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan.
Terkait potensi emiten berkapitalisasi besar (lighthouse) pada 2025, Nyoman menyebutkan terdapat dua calon lighthouse yang berasal dari sektor infrastruktur dan pertambangan. Lighthouse IPO merupakan emiten dengan nilai besar dan dampak signifikan terhadap pendalaman pasar modal.
Rencana IPO Bank Jakarta, yang dulunya dikenal sebagai Bank DKI, telah bergulir sejak lama. Pada tahun 2024, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Bank DKI kala itu, Amirul Wicaksono, mengatakan bank tersebut telah mendapatkan izin prinsip IPO pada kuartal I/2023.
Namun, pelaksanaan IPO ditunda karena “kondisi tidak mendukung” dan “tahun politik 2024”.
Kemudian, pada 22 Juni 2025, Bank Jakarta mengumumkan kesiapannya untuk melantai di BEI pada awal tahun 2026. Pengumuman ini bertepatan dengan peluncuran nama dan logo baru perusahaan.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan proses IPO secara internal, namun pelaksanaannya akan sangat bergantung pada kondisi pasar saat itu.
“Mungkin awal-awal tahun depan [2026], tapi saya tidak bisa menjanjikan. Pokoknya kalau situasi pasar mendukung, kami siap,” katanya saat itu.
Dana yang dibidik dari IPO diperkirakan mencapai Rp3 triliun, sejalan dengan rencana Bank Jakarta untuk naik kelas dari Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 menjadi KBMI 3.
Target dana IPO ini tidak berubah dari perkiraan sebelumnya yang menyebutkan perolehan dana sekitar US$150 juta—US$200 juta, setara Rp2,26 triliun hingga Rp3,01 triliun. Bank Jakarta juga dilaporkan telah bekerja sama dengan PT BCA Sekuritas dan PT CIMB Niaga Sekuritas Indonesia sebagai penasihat dalam proses IPO.












