Padang – Bencana banjir, longsor, galodo, dan pohon tumbang yang melanda Sumatera Barat sejak Kamis pekan lalu memicu sorotan tajam terkait penyebab utamanya. Wartawan senior Khairul Jasmi menilai tumpukan kayu gelondongan di sepanjang pantai Kota Padang menjadi bukti nyata adanya kerusakan lingkungan.
“Air yang membawa kayu itu adalah bukti. Alam sedang menelanjangi kita,” ujarnya terkait bencana yang menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan parah di berbagai daerah.
Menurut Jasmi, praktik pembalakan liar skala kecil namun tersebar masih marak terjadi di berbagai wilayah Sumbar. Ia menjelaskan praktik ilegal ini dilakukan oleh banyak pelaku yang berpindah-pindah lokasi, membeli kayu rimba dari warga, dan berlangsung dalam waktu lama tanpa terdeteksi aparat.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejak Kamis dan Jumat (27-28/11/2025), pantai sepanjang Padang dipenuhi kayu gelondongan, baik yang tumbang dihantam banjir maupun sisa penebangan. Seorang warga mengaku baru kali ini melihat tumpukan kayu sebanyak itu setelah puluhan tahun tinggal di Padang.
Akun media sosial sumbarzonaews mengunggah video kondisi pantai Patenggangan yang dipenuhi material kayu. “Limbah kayu ini bukti bahwa alam sedang menelanjangi kita semua… perbuatan buruk yang terjadi di hutan di atas bukit sana,” tulis akun tersebut.
Warganet pun menumpahkan kekecewaan di kolom komentar. “Lah dikirim barang bukti dek alam langsuang,” tulis @rokodwipernando. Sementara akun @cosmic_photography750 menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah: “Pemimpin dipilih rakyat untuk mengelola daerah… apa yang mereka perbuat? Mengecewakan dan menyengsarakan rakyat.”
Fenomena ini bahkan sampai diunggah oleh akun besar lambe_turah yang memiliki 12,3 juta pengikut, sehingga memantik perhatian nasional.
Sejumlah warga meyakini bahwa banjir kali ini bukan hanya merobohkan pohon hidup, tetapi juga menyapu bersih kayu-kayu hasil pembalakan yang disimpan jauh dari bibir sungai. “Kalau kayu tumbang karena banjir, tak mungkin sebanyak itu. Yang terjadi, kayu-kayu yang sudah ditebang jauh dari anak sungai ikut terseret,” kata seorang warga.
Banjir dan longsor diperparah oleh lemahnya antisipasi. Jasmi mengkritik pemerintah daerah tidak merespons cepat peringatan harian mengenai peningkatan curah hujan dan potensi bencana dari BMKG. “Peringatan BMKG tak dibaca sama sekali oleh pejabat berwenang,” tegasnya.
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, pada Jumat (28/11/2025) di Padang, mengklaim bahwa setiap laporan terkait aktivitas pembalakan selalu ditindaklanjuti. “Kami perkuat koordinasi dengan berbagai pihak,” ujarnya.
Dirreskrimsus Polda Sumbar, Kombes Pol Andri Kurniawan, menyatakan saat ini polisi fokus pada keselamatan warga terdampak. “Kita fokus dulu,” katanya. Andri menegaskan dugaan pembalakan liar tidak akan diabaikan.












