Aceh Tamiang – Di tengah dampak banjir yang melumpuhkan, semangat kewirausahaan muncul di Kampung Dalam, Tanjung Baru, Aceh Tamiang. Rinaldi, seorang pemuda berusia 27 tahun, melihat peluang di tengah kesulitan dengan membuka gerai kopi di lokasi yang masih dipenuhi lumpur.
Usaha kopi “Kopiku Rasa” milik Rinaldi, yang berdiri sejak 8 Januari 2020, menjadi titik terang bagi warga dan tim bantuan yang tengah berjuang memulihkan wilayah tersebut. “Terima kasih Pak, awak baru mulai dagang sepekan ini,” ungkapnya saat melayani pelanggan yang terus berdatangan.
Keterbatasan akses akibat banjir menjadi tantangan tersendiri bagi Rinaldi dalam mendapatkan pasokan kopi Gayo. Ia menjelaskan bahwa untuk mendapatkan bahan baku, ia harus menempuh perjalanan panjang, “Saya beli ke Medan, tiga jam, ke Banda Aceh 12 jam.”
Meskipun demikian, semangatnya tidak surut. Dengan harga Rp 10 ribu per gelas, kopi hitamnya menjadi buruan di tengah minimnya penjual kopi panas di area terdampak banjir. Seorang pelanggan menuturkan, “Lucu kalau Aceh tak ngopi Pak,” menggambarkan betapa pentingnya kopi bagi masyarakat Aceh, bahkan di tengah situasi sulit.
Di tengah kesibukan lalu lalang kendaraan bantuan, kopi hangat menjadi penyemangat bagi para pekerja dan relawan. Seorang pemuda transmigrasi yang tengah membersihkan rumah kerabatnya mengatakan sambil menunggu pesanannya, “Membersihkan rumah bude.” Dengan dibantu dua karyawan, Rinaldi terus melayani pelanggan. Spanduk di belakang gerainya bertuliskan, “Kopiku Tada berdiri Tangal 08 Januari 2020, di Kuala Simpang Aceh Tamiang. Dimana makna Kopiku sendiri berarti adanya hak kepemilikan untuk mengkonsumsi kopi…”










