Batusangkar – Sebuah inisiatif ambisius untuk mendirikan Sekolah Rakyat di Nagari Tanjung Alam, Tanah Datar, diharapkan dapat mengubah lanskap pendidikan di wilayah tersebut. Proyek yang diperkirakan menelan biaya Rp 300 miliar ini, direncanakan akan menampung 3.000 siswa dari berbagai tingkatan pendidikan.
Menurut Direktur Utama Nidya Karya, survei lapangan akan segera dilakukan untuk memastikan kelayakan lokasi. “Lokasinya bagus, tim saya segera survei lapangan,” ujarnya saat mendampingi kunjungan Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, pada Kamis (19/2). Survei ini menjadi langkah awal dalam merealisasikan proyek yang diharapkan dapat memberikan dampak signifikan bagi masyarakat setempat.
Sekolah Rakyat ini dirancang untuk menyediakan pendidikan gratis mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Selain itu, inisiatif ini juga mencakup penyediaan asrama, makanan, seragam, dan perlengkapan sekolah secara cuma-cuma. Siswa akan tinggal di asrama yang aman dan teratur, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Prioritas utama dari program ini adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu, miskin ekstrem, dan nyaris miskin yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan. Dony Oskaria menegaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah “bukti negara hadir,” menunjukkan komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian kepada kelompok masyarakat yang kurang beruntung.
Lebih lanjut, Dony menyatakan bahwa selama ini negara seolah “mempermalukan anak-anak miskin,” dan program ini bertujuan untuk mengembalikan harga diri mereka. Selain pembangunan sekolah, Dony juga meninjau rencana pembangunan kembali Masjid Raya, pasar, kantor walinagari, dan kantor adat setempat.
Pemerintah menargetkan pembangunan 500 unit Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia, dengan total kapasitas 1,5 juta siswa. Saat ini, 166 unit telah beroperasi, memberikan harapan baru bagi ribuan anak-anak yang membutuhkan.










