Bukittinggi – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan tanggapan awal terkait pergerakan tanah yang mengakibatkan pengungsian sementara warga di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria, Selasa (25/11/2025) menjelaskan, kondisi morfologi kawasan Ngarai Sianok merupakan lembah curam yang dibatasi tebing terjal dengan kemiringan lereng lebih dari 60 persen. “Morfologi terjal ini terbentuk oleh proses erosi kuat pada batuan vulkanik dan dipengaruhi struktur geologi regional,” jelasnya.

Lana Saria menambahkan, morfologi curam dan berteras akibat reaktivasi patahan menjadikan kawasan ini secara alami rentan terhadap gerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi atau gempa bumi. Tebing Ngarai Sianok tersusun dari batuan piroklastik berupa ignimbrit dan tufa batu apung (pumice tuff) yang berasal dari aktivitas vulkanik masa lalu.

Di beberapa tempat, terutama di dasar lembah, terdapat endapan koluvium serta material lepas hasil runtuhan tebing dan endapan sungai. Batuan piroklastik yang telah lapuk cenderung rapuh, berpori, dan mudah jenuh air, sehingga menurunkan kestabilan lereng ketika terinfiltrasi air hujan.

Lana Saria mengungkapkan, daerah ini berada dalam pengaruh langsung Patahan Besar Sumatera (Sesar Semangko), terutama segmen Sianok yang merupakan sesar aktif. Aktivitas tektonik pada segmen ini dapat menimbulkan retakan baru atau memperbesar retakan lama pada tebing ngarai, mengurangi kekompakan massa batuan dan meningkatkan potensi longsor. “Hasil pengamatan di lapangan oleh instansi daerah sebelumnya juga menunjukkan adanya rekahan pada dinding tebing yang berkembang setelah getaran gempa,” ungkapnya.

Berdasarkan peta potensi gerakan tanah PVMBG, wilayah dengan kemiringan lereng curam serta tersusun oleh batuan vulkanik lapuk berada dalam kategori kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi. “Kawasan pemukiman yang berdekatan dengan bibir tebing Ngarai Sianok termasuk dalam zona yang harus diwaspadai, terutama pada periode hujan intensif atau ketika terjadi aktivitas seismik,” katanya.

Kombinasi topografi terjal, litologi rapuh, dan keberadaan struktur aktif menjadikan kawasan ini sensitif terhadap potensi tanah bergerak. Diketahui sebelumnya, sebanyak 60 warga atau 11 KK diungsikan akibat peristiwa pergerakan tanah pada Senin (24/11/2025).

Terkait rekomendasi awal, Badan Geologi menyarankan tindakan stabilisasi lereng seperti pemasangan jaring pengaman, perkuatan lereng, atau sistem drainase air permukaan untuk mengurangi tekanan air pori pada zona tebing yang retak atau rawan runtuhan. Selain itu, penanaman vegetasi berakar kuat dapat menjadi upaya meningkatkan kohesi tanah serta mengurangi infiltrasi air.

Badan Geologi mengimbau agar aktivitas di sekitar bibir tebing dan daerah rawan dihindari, terutama saat hujan lebat atau pascagempa. Pemerintah daerah juga perlu mengatur pemanfaatan ruang agar tidak ada pembangunan baru pada area dengan potensi gerakan tanah tinggi, serta meninjau kembali pemukiman yang berada terlalu dekat dengan tebing ngarai. “Perlu penyusunan jalur evakuasi dan rencana kontinjensi bencana berbasis potensi longsor di kawasan wisata Ngarai Sianok,” pungkasnya.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.