Dharmasraya – Sebuah rumah makan sederhana di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, menyimpan kisah penting di balik berdirinya kabupaten tersebut. Gedung Awak Juo, yang kini menjadi tempat jual beli makanan, ternyata menjadi saksi bisu perjuangan pemekaran Dharmasraya dari Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.
Di balik kesibukan para pembeli dan penjual makanan, dahulu tempat ini menjadi pusat perdebatan dan perumusan strategi pemekaran. “Di sanalah, di Rumah Makan Awak Juo, sejarah Dharmasraya pernah diperdebatkan dengan suara lirih dan tekad yang keras,” ungkap seorang sumber. Musyawarah panjang yang dilakukan di tempat itu menjadi fondasi bagi berdirinya Kabupaten Dharmasraya.
Menurut catatan sejarah, antara tahun 2002 hingga 2003, gedung ini menjadi pusat kegiatan para tokoh pemekaran. Di lantai dua bangunan tersebut, tokoh-tokoh seperti almarhum Adlis Ade, yang dikenal dengan prinsipnya yang kuat, berdiskusi untuk mempertimbangkan masa depan, mengidentifikasi risiko, dan merencanakan langkah-langkah strategis.
Kepemimpinan kemudian beralih kepada Adi Gunawan, yang menjabat sebagai ketua badan pemekaran kedua. Masrigi Dt.Rajo Lelo, mantan anggota DPRD Dharmasraya, menjabat sebagai sekretaris, sementara Masrul Maas, mantan Ketua DPRD Dharmasraya, bertindak sebagai bendahara. Leli Arni, satu-satunya tokoh perempuan dari kalangan PNS, juga turut serta dalam perjuangan tersebut.
Perjuangan para tokoh tersebut tidaklah mudah. Mereka mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, dan bahkan materi untuk mewujudkan cita-cita pemekaran. “Ini semua demi satu tujuan untuk melepaskan diri dari kabupaten induk, Sawahlunto Sijunjung,” jelas sumber tersebut.
Selain menjadi tempat perumusan pemekaran, Gedung Awak Juo juga sempat berfungsi sebagai kantor sementara Mapolres Dharmasraya, dengan Arum Priono sebagai Kapolres pertama. Negara hadir dengan cara sederhana, menumpang dan beradaptasi sebelum membangun fasilitas permanen.
Momen penting terjadi di halaman Kantor Sedasi Pulau Punjung, di mana Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 secara resmi membentuk Kabupaten Dharmasraya. Teks pemekaran dibacakan oleh Hasan Zaini, didampingi oleh para tokoh yang telah berjuang demi cita-cita bersama.
Setelah pemekaran disetujui, Ahmad Munawar ditunjuk sebagai Penjabat Bupati Dharmasraya. Dari titik tersebut, perjalanan baru dimulai, membangun daerah yang sebelumnya hanya menjadi bagian pinggiran sejarah.
Kini, Dharmasraya telah berusia 22 tahun. Pembangunan infrastruktur telah banyak dilakukan, dan generasi baru tumbuh tanpa mengetahui sejarah perumusan daerah mereka di sebuah rumah makan sederhana.
Meskipun tidak ada monumen atau peringatan khusus, Gedung Awak Juo tetap berdiri sebagai saksi bisu lahirnya Dharmasraya. Di tempat itulah, Dharmasraya dilahirkan melalui kata-kata, perdebatan, dan keberanian untuk bermimpi besar. “Sejarah memang sering tak memilih tempat yang megah. Ia hanya butuh ruang dengan secangkir kopi cukup dan orang-orang yang berani melawan lupa,” tutupnya.












