JAKARTA – Aliran dana asing terus meninggalkan pasar saham domestik, membuat kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat rapuh dan hanya ditopang pergerakan saham emiten konglomerasi. Sejak awal tahun, investor asing telah melepas saham senilai Rp 51,71 triliun di pasar reguler.

Pada akhir perdagangan Jumat lalu, IHSG ditutup menguat di level 8.257,85. Secara bulanan, IHSG melonjak 5,14%, sementara sejak awal tahun (year to date/YTD) penguatan tercatat sebesar 16,64%.

Meski demikian, dana asing yang masuk pada perdagangan Jumat lalu sebesar Rp 1,18 triliun di pasar reguler dan Rp 728,64 miliar di seluruh pasar, tidak mampu membendung tren bulanan. Dalam sebulan, dana asing tercatat keluar hingga Rp 4,98 triliun dari pasar reguler.

Seiring masuknya dana asing pada Jumat lalu, beberapa emiten konglomerasi mencatatkan pembelian bersih (net buy). PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dibeli asing Rp 314 miliar.

Kemudian, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dibeli asing Rp 173,8 miliar dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dibeli asing Rp 132,7 miliar pada akhir pekan lalu.

Dalam sebulan terakhir, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi emiten yang paling banyak diborong asing, dengan total Rp 2,9 triliun. Disusul BRPT yang diserok asing Rp 680,7 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) dibeli asing Rp 562,8 miliar.

Sebaliknya, emiten perbankan besar atau bank buku empat ramai-ramai dilepas asing pada Jumat lalu. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dilepas asing Rp 144,7 miliar.

Lalu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas asing Rp 136,2 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dijual asing Rp 71,4 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dilego Rp 61,3 miliar.

Tren serupa juga terjadi dalam sebulan terakhir. BBCA menjadi emiten yang paling banyak dilepas asing dengan total dana keluar Rp 4,4 triliun. Selanjutnya, BMRI dilepas asing Rp 1,6 triliun, BBRI Rp 1,4 triliun, dan BBNI Rp 780,7 miliar.

Vice President of Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menjelaskan bahwa penguatan IHSG yang mencatat beberapa kali rekor tertinggi baru (all time high/ATH) memang lebih didominasi pergerakan emiten konglomerasi, ketimbang perbankan yang memiliki bobot besar terhadap indeks.

Menurut Audi, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kondisi ini. Pertama, penyeimbangan ulang indeks global seperti MSCI dan FTSE yang memasukkan konstituen baru dari emiten konglomerasi, mendorong aliran dana pasif (passive inflow) melalui produk ETF indeks.

Kedua, tingginya ketidakpastian global mendorong peralihan investasi dari emiten siklikal atau sensitif terhadap makro ekonomi, salah satunya perbankan, menuju aset safe haven dan berisiko rendah yang cenderung lebih stabil.

Ketiga, pemangkasan suku bunga yang disebabkan pelemahan ekonomi, khususnya di Amerika Serikat, mencerminkan pasar yang lebih konservatif. Keempat, dampak kebijakan eksternal dan geopolitik. Audi mencontohkan rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif 100% pada komoditas rare earth Tiongkok, yang dapat meningkatkan ketidakstabilan ekonomi global dan mendorong investor keluar dari pasar saham.

Terakhir, tekanan pada kinerja emiten perbankan. Suku bunga Bank Indonesia (BI) yang tinggi cenderung menghambat pertumbuhan kredit dan terlihat berdampak pada peningkatan biaya kredit (cost of credit) di beberapa bank besar.

Audi berpandangan, pasar saham Indonesia cenderung akan lebih stabil mulai kuartal IV 2025. Namun, hal itu tetap dengan sejumlah catatan, yaitu stabilitas makroekonomi dalam negeri, normalisasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, pemulihan kinerja emiten sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter, serta penurunan dampak kebijakan tarif AS dan geopolitik.

Di tengah kondisi tersebut, Audi menilai valuasi bank-bank besar sebenarnya cenderung lebih menarik. Bahkan secara relatif, valuasi saham mereka sudah bergerak di bawah rerata tiga tahun terakhir, menunjukkan kondisi undervalue. Investor disarankan untuk melakukan accumulative buy pada bank-bank besar, seiring dengan pelonggaran kebijakan suku bunga BI dan dukungan pemerintah untuk pemberian likuiditas perbankan.

Dalam jangka pendek, investor dapat memperhatikan sektor yang terdampak siklus atau tematik, seperti energi dan barang baku. Sementara dalam jangka menengah hingga panjang, investor bisa memperhatikan sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti keuangan, properti, industri, hingga telekomunikasi.

Audi merekomendasikan beli untuk BBRI dengan target harga Rp 4.250 per saham dan BBCA dengan target harga Rp 9.000 per saham. Rekomendasi trading buy juga disematkan untuk ANTM, WIFI, TLKM, dan ASII dengan target harga masing-masing Rp 4.000 per saham, Rp 4.450 per saham, Rp 3.450 per saham, dan Rp 6.450 per saham.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.