Washington – Amerika Serikat membantah klaim bahwa Hamas melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Israel karena tidak mengembalikan seluruh jenazah sandera. Hamas menjelaskan bahwa sebagian jenazah terkubur dalam reruntuhan di Gaza, sehingga membutuhkan peralatan khusus untuk proses evakuasi.

Dua penasihat senior Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa rencana demiliterisasi Gaza dan pembentukan pemerintahan transisi tetap berjalan, meskipun terjadi penundaan dalam proses pengembalian jenazah sandera tersebut. Mereka menegaskan bahwa pemerintah AS tidak meyakini Hamas melanggar gencatan senjata.

Hamas sendiri telah mengembalikan sembilan dari 28 jenazah sandera yang ditahannya. Kelompok itu menyebutkan bahwa jenazah yang tersisa memerlukan upaya signifikan dan peralatan khusus untuk pencarian serta evakuasi.

Menanggapi keterlambatan penyerahan jenazah para sandera, Israel membatasi pasokan bantuan yang dijanjikan ke Gaza. Salah satu penasihat AS menyatakan bahwa tingkat kerusakan di wilayah kantong Palestina itu sangat parah, sehingga pemulihan semua sandera yang tewas bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Berdasarkan ketentuan fase pertama gencatan senjata yang dimediasi oleh AS, Hamas wajib mengembalikan 28 jenazah sandera yang tewas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Rabu mengatakan militer negaranya harus siap bertindak jika Hamas menolak melaksanakan kesepakatan. Israel telah setuju untuk menukar jenazah 15 warga Palestina yang terbunuh dengan setiap sandera Israel yang tewas.

Netanyahu Berkukuh Soal Perlucutan Senjata Hamas

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berharap ada fase damai selanjutnya dalam kesepakatan antara Israel dan Hamas. Namun, ia mencatat bahwa syarat-syarat Presiden Trump “sangat jelas:” Hamas harus menyerahkan senjatanya dan melakukan demiliterisasi, atau “neraka akan dilepaskan.”

Dalam sebuah wawancara eksklusif pada Selasa, 14 Oktober, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya sepakat untuk memberi kesempatan bagi perdamaian, setelah kunjungan singkat Presiden AS Donald Trump ke Tel Aviv. Kunjungan itu menandai fase pertama dari 20 poin rencana perdamaiannya untuk Gaza dan menyatakan “perang telah berakhir.”

Setelah para sandera yang masih hidup dipulangkan, Netanyahu menambahkan bahwa demiliterisasi dan pelucutan senjata harus menjadi prioritas berikutnya. Sebelumnya, Hamas telah menolak penyerahan senjata. Trump mengingatkan, “Jika Hamas tidak melucuti senjatanya, kami akan melucuti senjata mereka atau neraka akan dilepaskan.”

Netanyahu mengklaim ingin penyelesaian konflik secara damai. “Saya harap kami bisa melakukan ini secara damai. Kami tentu siap melakukannya,” ujarnya. Ia juga berupaya meyakinkan publik dengan merujuk pada Perjanjian Abraham, di mana Israel menormalisasi hubungan dengan empat negara Liga Arab. “Kami memiliki kesempatan untuk memperluas perdamaian itu, hal ini akan menjadi hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada rakyat Israel, rakyat di kawasan ini, dan rakyat dunia,” pungkasnya.

Kesepakatan Merugikan Hamas dan Palestina

Kesepakatan antara Hamas dan Israel yang dimediasi Trump merinci pertukaran seluruh 20 sandera Israel yang masih hidup dengan 2.000 tahanan Israel dan warga Palestina yang ditahan Israel. Rencana ini juga merinci penarikan militer Israel dari Gaza secara bertahap, serta membuka aliran bantuan ke Gaza yang selama ini mengalami krisis kelaparan.

Penyelesaian di fase-fase selanjutnya juga mencakup penetapan tata kelola Gaza pascaperang, status kenegaraan Palestina, dan pelucutan senjata Hamas. Dari pernyataan Trump, dapat dipahami bahwa pendekatannya kepada Hamas dilakukan dengan ancaman pengerahan kekuatan penuh atau pemusnahan Gaza.

Di sisi lain, hukum internasional menyatakan bahwa kelompok bersenjata memiliki hak untuk memiliki senjata dan melawan kekuatan pendudukan – dalam kerangka utama yang dirujuk untuk melindungi warga sipil di masa perang. Kerangka inilah yang menjadi basis dalam Perjanjian Damai Oslo pada 1990-an yang ditandatangani oleh para pemimpin Palestina dan Israel saat itu.

Azmi Keshawi, warga Palestina dari Gaza dan seorang peneliti di International Crisis Group (ICG), mengatakan bahwa Hamas mungkin hanya akan menyerahkan beberapa “persenjataan ofensif” seperti misil jarak pendek dan jarak jauh. Namun, Hamas tidak akan pernah menyerahkan senjata kecil dan senjata ringannya, atau menyerahkan peta jaringan terowongan canggihnya yang dibangun selama puluhan tahun untuk melawan Israel.

“Mereka hanya akan menyerahkan senjata ringan ketika tidak diperlukan lagi. Ini berarti mereka hanya akan menyerahkannya kepada pemimpin Palestina yang mengambil alih kendali negara setelah Israel mengakhiri pendudukannya,” ujar Keshawi pada awal Oktober lalu.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.