Padang – Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyatakan serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela pada Sabtu, 3 Januari 2026, akan berdampak signifikan pada perekonomian negara tersebut. Serangan yang mencakup penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan deklarasi kepemimpinan sementara oleh Presiden AS Donald Trump ini diperkirakan akan langsung memangkas kapasitas ekspor minyak dan kemampuan Venezuela memperoleh devisa.

Syafruddin menjelaskan, serangan tidak harus menghancurkan kilang minyak untuk melumpuhkan kemampuan Venezuela dalam memperoleh devisa. “Gangguan pada jalur logistik dan kepastian pengapalan sudah cukup untuk menurunkan kapasitas ekspor efektif,” katanya dalam siaran pers Minggu, 4 Januari 2026.

Sebelumnya, Amerika Serikat menyerang Venezuela pada Sabtu, 3 Januari 2026. Setelah serangan tersebut, AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro atas tuduhan keterlibatan dalam terorisme narkoba. Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa Amerika akan “memimpin” Venezuela untuk sementara waktu.

Trump juga menegaskan bahwa AS akan mengelola cadangan minyak Venezuela. “Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan besar minyak AS—terbesar di dunia—untuk masuk dan menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara,” ujarnya dalam konferensi pers pada Sabtu.

Meskipun infrastruktur produksi dan pengilangan perusahaan migas milik negara Venezuela, Petróleos de Venezuela, S.A (PDVSA), tidak mengalami kerusakan besar akibat serangan AS, blokade tanker dan penyitaan kargo pada Desember lalu telah memangkas ekspor minyak Venezuela hingga sekitar separuh dari 950 ribu barel per hari pada November. Akibatnya, perusahaan pelayaran menghindari perairan Venezuela, stok minyak menumpuk, dan aktivitas pelabuhan merosot tajam.

Melihat kondisi ini, Syafruddin berpendapat komunitas internasional harus segera merespons dengan tegas. Ia menekankan perlunya negara-negara Global South memperkuat solidaritas diplomatik agar preseden serupa tidak menyebar ke kawasan lain.

“Bagi Indonesia, pesan strategisnya jelas: perkuat ketahanan energi dan pangan, diversifikasi sumber devisa, dan bangun kredibilitas institusi ekonomi agar tekanan eksternal tidak mudah menerjemahkan guncangan geopolitik menjadi krisis domestik,” ucapnya.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.