Jakarta – Serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah pada awal Maret 2026 memicu kekhawatiran mendalam mengenai ketahanan energi nasional, terutama pasokan gas LPG yang krusial bagi kebutuhan rumah tangga di seluruh Indonesia. Potensi gangguan rantai pasok global menjadi sorotan utama.
Seorang pengajar di bidang Teknik Mesin Universitas Andalas (UNAND) menyatakan keprihatinannya atas situasi global yang memburuk. “Dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya, merujuk pada eksodus massal di bandara Abu Dhabi dan kebakaran di fasilitas Saudi Aramco sebagai indikasi awal dari gelombang kedua “Kiamat Energi”. Menurutnya, ancaman ini secara perlahan mendekati titik kritis, yaitu dapur-dapur rumah tangga di Indonesia.
Pada 2 Maret 2026, Selat Hormuz, jalur perdagangan vital, berubah menjadi zona berbahaya akibat serangan rudal Iran terhadap fasilitas Ras Laffan di Qatar. Akibatnya, Eropa kehilangan akses ke pasokan LNG global, yang menyebabkan lonjakan harga gas di pasar Eropa (TTF) sebesar 50,17%. Harga minyak mentah dunia, menurutnya, tampaknya “ditenangkan” secara artifisial oleh Amerika Serikat melalui IEA. Ia menambahkan, “Mekanisme pengendalian ini tampaknya tidak mungkin dilakukan terhadap harga gas global.”
Ketergantungan Indonesia pada impor LPG, yang mencapai sekitar 75% dari total pasokan, menjadi perhatian serius. Meskipun pemerintah berupaya mengalihkan impor ke Amerika Serikat, jalur laut tetap menjadi jalur utama pasokan. Penutupan Selat Hormuz akan menghentikan pasokan LPG ke Indonesia.
Eksodus tenaga ahli asing dari negara-negara Teluk mengindikasikan fenomena “Zero Production”. Ia menjelaskan, “Ketika mereka pergi karena trauma perang, kilang berhenti berdetak dan operasional ekonomi lumpuh total.” Cadangan operasional LPG nasional saat ini hanya mampu mencukupi kebutuhan selama 12 hingga 18 hari.
Situasi ini berpotensi memicu pembelian panik, kelumpuhan ekonomi mikro, dan inflasi yang tidak terkendali. Pasar modal dunia telah menunjukkan tanda-tanda keruntuhan, dengan indeks harga saham Asia mengalami penurunan. Indeks di Indonesia (IDX Composite) masih menunjukkan stabilitas, namun ia memperingatkan bahwa ini adalah “stabilitas yang menipu”.
Pemerintah menghadapi dilema antara menaikkan harga BBM dan LPG subsidi atau menanggung beban subsidi yang besar. “Kiamat energi 2026 ini unik karena ia menyerang dua arah sekaligus: minyak untuk transportasi dan gas untuk konsumsi rumah tangga,” ungkapnya.
Kemandirian energi menjadi kunci untuk bertahan dalam situasi ini. Diversifikasi pasokan ke Amerika Serikat adalah langkah awal yang positif, namun tanpa cadangan strategis yang kuat dan percepatan pengembangan energi alternatif domestik, Indonesia akan tetap rentan. Ia menyimpulkan, “Sandiwara fiskal global mungkin membuat banyak orang lupa dan teralih perhatiannya dari bahaya yang nyata.”











