Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menetapkan pembatasan angkutan barang di jalan tol mulai 19 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Pembatasan ini diberlakukan seharian penuh guna mengurangi potensi hambatan dan mengendalikan arus lalu lintas pada titik rawan kepadatan selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, pembatasan ini bertujuan menjaga kinerja jaringan tol pada koridor dengan beban lalu lintas tinggi. Ia menyatakan, pemerintah akan mengevaluasi kebijakan ini secara berkala agar tetap proporsional, efektif, dan berpihak pada keselamatan pengguna jalan.

Pembatasan angkutan barang di ruas jalan tol tidak lagi menggunakan window time, melainkan berlaku menerus. Sementara itu, untuk ruas jalan arteri atau non-tol, pembatasan tetap menggunakan window time pada pukul 05.00 hingga 22.00 waktu setempat.

Dudy menambahkan, pembatasan bisa bersifat dinamis dengan menyesuaikan perkembangan situasi lalu lintas di lapangan. Kemenhub juga berkoordinasi dengan Korlantas Polri untuk memastikan langkah manajemen operasional, termasuk diskresi kepolisian, dapat diterapkan demi menjaga kelancaran dan keselamatan.

Sebelumnya, pemerintah memberikan kesempatan kepada karyawan swasta dan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk Work From Anywhere (WFA) pada 29-31 Desember 2025. Kebijakan ini dikecualikan bagi sektor-sektor tertentu yang berhubungan dengan pelayanan masyarakat, kesehatan, manufaktur, perhotelan, pusat perbelanjaan, makanan dan minuman, serta sektor esensial lainnya.

Kebijakan WFA bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat selama Nataru. Selain itu, pemerintah juga memberikan diskon tiket transportasi hingga diskon tarif tol untuk memperlancar mobilitas antarkota.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember hingga Januari.

Perihal WFA, Kemenhub bersama Polri masih melakukan survei untuk memetakan potensi pergeseran atau penambahan puncak arus pergerakan masyarakat. “Kemungkinan ada pergeseran atau kemungkinan bertambah. Karena waktunya cukup panjang, akan bertambah masyarakat yang akan melakukan perjalanan selama libur Nataru ini,” tutur Aan.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.