JAKARTA – Investor disarankan untuk lebih cermat menyusun kembali portofolio saham memasuki tahun 2026 demi mengoptimalkan peluang keuntungan dan mengelola risiko. Hal ini menyusul kinerja pasar saham Indonesia yang terbilang positif sepanjang 2025, menjadikan saham tetap menjadi instrumen investasi menjanjikan dalam jangka panjang.

Para pengamat pasar modal dan praktisi investasi sepakat bahwa porsi investasi saham dalam portofolio harus disesuaikan dengan target imbal hasil dan profil risiko masing-masing investor.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, menjelaskan bahwa jika investor menargetkan pertumbuhan imbal hasil sekitar 10% per tahun, porsi saham dalam portofolio cukup berada di kisaran 20%–30%. Namun, apabila investor mengincar imbal hasil saham minimal 15% per tahun, porsi investasi saham perlu ditingkatkan menjadi sekitar 50% atau bahkan lebih.

“Namun, investor juga harus siap dengan risikonya. Imbal hasil saham 15% atau lebih itu masih berupa ekspektasi, sehingga belum tentu terealisasi,” ujar Budi pada Kamis (1/1/2026).

Menurut Budi, saham-saham konglomerasi berpotensi kembali menjadi incaran investor pada 2026, melanjutkan tren tahun sebelumnya. Saham dengan free float relatif terbatas atau saham hasil penawaran umum perdana (IPO) dari grup konglomerat masih dinilai menarik. Pertimbangan utamanya bukan semata faktor fundamental, melainkan emiten konglomerasi umumnya siap menjadi liquidity provider. Minat investor asing terhadap saham-saham ini juga meningkat, terutama ketika emiten berhasil masuk ke indeks global seperti MSCI.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, merekomendasikan alokasi portofolio saham berdasarkan profil risiko. Investor dengan profil risiko konservatif idealnya mengalokasikan sekitar 20%–35% portofolio ke saham defensif yang rutin membagikan dividen. “Tujuan utama investor konservatif adalah menjaga stabilitas nilai portofolio,” kata Nafan.

Bagi investor berprofil moderat, porsi saham yang disarankan berada di kisaran 40%–60%, dengan mengombinasikan saham defensif dan saham siklikal yang memiliki prospek pertumbuhan positif serta risiko terukur. Adapun investor agresif dapat mengalokasikan sekitar 65%–80% portofolionya ke saham, karena kelompok ini umumnya berorientasi jangka panjang dan memiliki toleransi tinggi terhadap volatilitas pasar.

Nafan menyebutkan sejumlah saham dari berbagai sektor yang dapat menjadi pilihan investor, mulai dari pertambangan, perbankan, energi, telekomunikasi, poultry, manufaktur, hingga konsumer. Beberapa di antaranya adalah ADRO, ASSA, AUTO, BBCA, BBNI, BMRI, BBRI, BNGA, BRMS, CUAN, ENRG, HRTA, INCO, IMPC, ISAT, JPFA, PGAS, PTRO, RATU, SIDO, TINS, TKIM, UNVR, dan WIFI.

Praktisi pasar modal sekaligus Pendiri Warkop Saham, Raden Bagus Bima, menambahkan bahwa ada tiga strategi utama yang perlu dipegang investor saham pada 2026. Pertama, melakukan diversifikasi lintas sektor antara saham defensif, siklikal, dan saham berorientasi pertumbuhan (growth). Kedua, mengombinasikan saham berfundamental kuat dengan saham yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Ketiga, melakukan rebalancing portofolio secara berkala sesuai perubahan kondisi pasar.

Berdasarkan pendekatan tersebut, Raden menyarankan porsi saham sekitar 20%–30% untuk investor konservatif, 40%–60% bagi investor moderat, dan 70%–80% untuk investor agresif.

Ia menilai sektor perbankan atau keuangan masih menjadi unggulan pada 2026, seiring tren penurunan suku bunga acuan The Fed dan stabilitas likuiditas domestik. “Bank-bank besar dengan kualitas aset yang baik dan rasio CASA yang kuat masih menarik dari sisi valuasi,” ujar Raden.

Selain perbankan, sektor energi dan komoditas juga patut dipertimbangkan, terutama bagi emiten dengan biaya produksi rendah dan diversifikasi bisnis yang solid. Saham-saham konsumer dinilai tetap relevan sebagai penopang portofolio di tengah potensi volatilitas pasar karena karakter pendapatannya yang relatif stabil. Tak ketinggalan, sektor infrastruktur dan utilitas turut menjadi sorotan berkat dukungan belanja pemerintah serta keberlanjutan proyek strategis nasional yang memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang.

Meskipun demikian, investor tetap perlu mencermati fundamental emiten, sensitivitas terhadap perubahan suku bunga dan harga komoditas, serta memperhatikan valuasi dan likuiditas saham guna menjaga fleksibilitas rebalancing portofolio.

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, menambahkan bahwa awal tahun dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan rebalancing portofolio. Pasalnya, masih terdapat sejumlah saham yang terkoreksi harganya, namun memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang positif.

“Tidak masalah masuk ke saham, asalkan likuiditas tetap dijaga, terutama untuk kebutuhan dan kewajiban jangka pendek,” jelas Eko. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi tekanan inflasi ke depan, investor perlu lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio. Keseimbangan antara kebutuhan likuiditas dan tujuan investasi jangka panjang menjadi kunci agar investor tidak terjebak risiko finansial yang berlebihan.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.