Nagekeo – Aktivis penolak geothermal, Rudolfus Oktavianus Ruma, ditemukan tewas di sebuah gubuk di Sikusama, Desa Tonggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (5/9/2025). Kematiannya menimbulkan kejanggalan bagi rekan-rekannya.
Warga sekitar menemukan jenazah Vian, sapaan akrabnya, dan melaporkannya kepada pihak kepolisian. Polisi kemudian membawa jenazah ke puskesmas terdekat untuk pemeriksaan.
Sebelum ditemukan meninggal, Vian dilaporkan hilang kontak selama dua hari. “Rabu sampai Kamis sebelumnya hilang kontak,” kata perwakilan Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI), Efraim Mbomba Reda, dalam keterangan tertulis.
Keluarga korban melaporkan kematian Vian ke Polsek Nangaroro pada Minggu (7/9/2025). Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa saksi-saksi sejak Selasa (9/9/2025).
Efraim menuturkan bahwa beberapa rekan korban melihat perubahan sifat Vian sebelum kematiannya. “Namun semua yang mengenal Vian tidak ada yang percaya dia bunuh diri,” tegas Efraim.
KOPI mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas penyebab kematian Vian secara transparan dan sesuai prosedur.
Kabar kematian Vian dikonfirmasi oleh sesama aktivis, Magdalena Eda Tukan. “Betul, ada anggota organisasi di Kabupaten Nagekeo yang meninggal ditemukan terlilit tali,” kata Eda pada Sabtu (6/9/2025).
Eda mengaku belum bisa menyimpulkan penyebab kematian Vian karena masih mendalami informasi.
Berdasarkan foto yang beredar, Vian ditemukan tergantung di dalam gubuk bambu dengan tali terikat di lehernya. Namun, posisi kakinya menyentuh lantai gubuk. Di dekatnya, ditemukan tas hitam dan telepon genggam.
Rudolfus Oktavianus Ruma dikenal sebagai aktivis lingkungan yang menolak proyek Geothermal di Flores, NTT. Ia aktif menyuarakan penolakan terhadap proyek yang dianggap merusak lingkungan dan merugikan masyarakat adat.












