Jakarta – Anugerah Jurnalistik Adinegoro (AJA) 2025 telah mengumumkan daftar nomine yang akan bersaing dalam lima kategori utama, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya jurnalistik yang mengangkat isu-isu penting bagi bangsa. Pengumuman ini menyusul proses penilaian ketat terhadap 746 karya yang diterima panitia.

Proses seleksi yang berlangsung selama tiga hari, dimulai 7 Januari 2026, menekankan mutu dan integritas. Menurut Direktur Anugerah Jurnalistik Adinegoro PWI Pusat, Maria D. Andriana, AJA bukan sekadar penghargaan, melainkan “barometer kualitas jurnalisme.” Ia menambahkan bahwa nomine tahun ini merepresentasikan liputan yang disiplin, berani, dan relevan dengan kepentingan publik. “Kami ingin publik melihat bahwa jurnalisme yang kuat selalu lahir dari ketekunan, verifikasi, dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Tema lomba tahun ini mencakup isu-isu krusial seperti demokrasi, korupsi, ketahanan pangan, serta energi dan lingkungan. Keberagaman platform media yang terwakili dalam daftar nomine mencerminkan dinamika ekosistem jurnalistik Indonesia di tengah tantangan era digital.

Pemenang AJA 2025 akan diumumkan melalui program khusus di TVRI sebelum acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten, pada 9 Februari 2026.

Berikut adalah daftar nomine Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2025:

Kategori Cetak: Harian Kompas (“Hutan Sumatera Lenyap” oleh M. Puteri Rosalina, Albertus Krisna, dan Fajar Ramadhan), Harian Kompas (“”Buzzer” Mengepung Warga” oleh Insan Alfajri, Irene Sarwindaningrum, Fajar Ramadhan, dan Melati Mewangi), dan Tempo (“Lempar Tambang Sembunyi Tangan” oleh Hussein Abri Dongoran, Erwan Hermawan, Eka Yudha Saputra, Avit Hidayat, dan Andi Adam Faturahman).

Kategori Siber: Katadata (“Sisi Lain Kota Digital: Batam Haus Data, Warga Haus Air” oleh Rezza Aji Pratama dan Puja Pratama Ridwan), BBC News Indonesia (“Kisah perempuan Papua di balik peristiwa viral Save Raja Ampat – ‘Biarpun ditangkap, saya tetap berjuang’” oleh Raja Eben Lumbanrau), dan Harian Kompas (“Sektor Industri dalam Cengkeraman Premanisme” oleh Stefanus Ato, Melati Mewangi, dan Insan Alfajri).

Kategori Foto: LKBN ANTARA (“Pemberian Gelar Pahlawan Nasional” oleh Aditya Pradana Putra), LKBN ANTARA (“Dampak longsor dan banjir bandang di Sumut” oleh Yudi), dan Merdeka.com (“Perlawanan Emak saat Demo DPR” oleh Arie Basuki).

Kategori Audio: Radio Elshinta (“Dari Sampah Menjadi Harapan: Transformasi Energi Bersih Di TPS Manggar” oleh Haryo Ristamaji, Remon Fauzi, Asep, dan Rinaldi), RRI Pro 3 (“Dari Jelantah Untuk Bumi dan Langit Biru Pertiwi” oleh Danang Sundoro), dan RRI Nunukan (“Perlawanan Masyarakat Adat Selamatkan Gajah Kalimantan Yang Terancam Punah” oleh Salma Amin).

Kategori Video: BBC News Indonesia (“Peringatan 20 tahun MoU Helsinki: Trauma yang sulit hilang akibat konflik Aceh” oleh Dwiki Marta dan Heyder Affan), Narasi Newsroom (“Nikel, Listrik, dan Polusi: Skandal Teluk Weda” oleh Aqwam Fiazmi Hanifan, Febrian Andhika, dan Juan Robin), dan Kompas TV (“Bekas Kompas episode “Masyarakat Adat Merauke di Ambang Petaka”” oleh Johar Arief, Faisal Al’Ansori, dan Githa Maharkesri).

Anugerah Jurnalistik Adinegoro bertujuan untuk mendorong jurnalisme berkualitas, berintegritas, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.