Lubuk Basung – Pemerintah Kabupaten Agam tengah berupaya memulihkan kondisi pasca-bencana hidrometeorologi yang menerjang enam kecamatan. Dukungan finansial dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi modal penting dalam penanganan darurat.
“Alhamdulillah Agam tak sendiri, kami didampingi terus menerus dan didanai oleh BNPB untuk tanggap darurat,” kata Benni pada Minggu (21/12), di kediamannya, menegaskan bahwa fase tanggap darurat telah berlalu.
Bencana yang mencapai titik terparah pada 27 dan 28 November lalu, disebabkan oleh curah hujan tinggi yang berlangsung terus-menerus, meninggalkan dampak yang signifikan. “Ya Allah, berat sekali bencana ini, tak akan mampu rasanya Agam khususnya Sumbar umumnya mengatasinya dengan kekuatan sendiri,” ujar Benni, menggambarkan skala kerusakan yang terjadi.
Benni menjelaskan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan di berbagai tingkatan pemerintahan, baik di internal Pemkab Agam, tingkat provinsi, maupun dengan pemerintah pusat.
Bencana tersebut mengakibatkan terganggunya berbagai sektor. Akses jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung dengan Bukittinggi terputus, 28 jembatan mengalami kerusakan, lebih dari 500 rumah hanyut, 851 rumah rusak berat, 657 rumah mengalami kerusakan ringan, serta 192 orang meninggal dunia dan 72 lainnya masih dinyatakan hilang.
“Kesedihan dan duka belum hilang, namun secara bertahap Agam telah keluar dari krisis,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa hanya dua lokasi di Malalak yang masih terisolasi.
Akses jalan di Palembayan, IV Koto, Malalak, dan Buayan Pabatuangan di Matur sempat terhambat akibat longsor dan timbunan material. “Hampir seratus persen pulih, ini berkat bantuan BPBD, TNI Polri, Semua relawan dalam daerah dan yang datang dari luar daerah,” kata Benni, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan.
Koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat terus diintensifkan. “Koordinasi kita tak putus, pusat sangat serius membantu kita, pusat melalui BNPB mendanai. Kita minta alat berat, dengan cepat 30 alat berat datang, dalam beberapa hari ini akan datang pula 30 jembatan beli, jembatan darurat siap pasang, setidaknya di awal Januari ini selesai semua,” jelasnya.
Selain bantuan dari pemerintah, solidaritas dari masyarakat juga sangat tinggi. “Bantuan sembako, barang kebutuhan lainnya terus mengalir, sehingga kita memiliki banyak stok dan persediaan,” imbuhnya.
Benni mengungkapkan rasa harunya atas tingginya solidaritas masyarakat. “Ternyata dalam kesusahan ini kita tidak sendiri, banyak sekali yang membantu sekarang kita punya banyak persediaan, kapan saja warga kita membutuhkan kita berikan,” tuturnya.
Balairung, yang sebelumnya berfungsi sebagai aula pertemuan, kini difungsikan sebagai gudang penyimpanan bantuan. Rahmat Lasmono, Kalak BPBD, menjelaskan bahwa pendistribusian bantuan dilakukan setiap hari ke posko-posko nagari dan jorong.
Di Salareh Aia, Zulkifli, wali nagari setempat, dan Jondra Marjaya, anggota DPRD Agam, mendirikan posko induk. Mereka menceritakan pengalaman saat melakukan penyelamatan warga. “Kami menyeberangi air dalam, pak wali terjebak lumpur setiinggi dada, tak tidur semalam, paginya langsung badoncek, terkumpul Rp 2,5 juta, kami dirikan dapur umum,” kata Jondra.
Zulkifli menambahkan, “Sebelum datang bantuan, selama 3 hari kami mengumpulkan 49 mayat bergelimpangan di sekitar Kayu Pasak Utara ini, Itulah mayat mayat yang kami kumpulkan di halaman masjid kami, yang viral itu.”
Posko Dapur umum Kayu Pasak menjadi posko utama nagari Salareh Aia Palembayan. Masyarakat mendesak Pemkab Agam untuk melakukan kajian mendalam terkait penyebab bencana. “Kita desak Pemkab Agam melakukan kajian penyebab galodo ini, sebagai bahan mitigasi.”












