Jakarta – Lebih dari 66 ribu siswa di seluruh Indonesia terpaksa berhenti sekolah pada tahun 2024. Masalah ekonomi dan keterbatasan akses menjadi penyebab utama.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat angka putus sekolah mencapai 66.866 siswa.

Rinciannya, 38.540 siswa SD/sederajat, 12.219 siswa SMP/sederajat, 6.716 siswa SMA, dan 9.391 siswa SMK.

Kisah Akbar (15) dari Makassar menjadi gambaran nyata. Ia terpaksa bekerja di bengkel demi membantu ekonomi keluarga.

Namun, kini Akbar memiliki harapan baru. Ia kembali bersekolah melalui program Sekolah Rakyat.

Mahalnya biaya pendidikan, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan kemiskinan menjadi faktor pendorong anak-anak terpaksa bekerja dan putus sekolah.

Pemerintah berupaya menekan angka putus sekolah melalui berbagai program.

Program tersebut meliputi Relawan Pendidikan, Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) sebesar Rp59,2 triliun, Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp9,67 triliun, Sekolah Rakyat di 165 titik, dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pendidikan sebagai benteng pertahanan bangsa. Ia menilai anak putus sekolah sebagai ancaman bagi masa depan Indonesia.

Koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu menyelamatkan generasi muda dari ancaman putus sekolah, meski tantangan seperti birokrasi dan korupsi masih membayangi.

Kisah Akbar menjadi simbol harapan. Dari bengkel, ia kembali ke kelas, membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak Indonesia dapat meraih mimpi mereka.

Komentar

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.