Padang – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Rumah Sakit Bhayangkara Padang terus berupaya mengidentifikasi 26 jenazah korban bencana yang belum dikenali hingga Kamis (4/12/2025). Mayoritas korban yang belum teridentifikasi tersebut adalah anak-anak.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kompol dr. Harry Andromeda menjelaskan, identifikasi korban telah berjalan selama delapan hari. Pihaknya mengakui sempat terkendala keterbatasan fasilitas pendingin jenazah, namun kendala tersebut telah teratasi berkat bantuan berbagai pihak.
“Alhamdulillah, kami dibantu teman-teman INAFIS, DVI Mabes Polri, serta seluruh stakeholder di Kota Padang. Identifikasi bisa kami lakukan terhadap semua jenazah yang dikirim dari rumah sakit jajaran yang tidak bisa diidentifikasi, kemudian dibawa ke kami,” ungkap Harry Andromeda saat diwawancarai Kamis (4/12/2025).
Dari 61 jenazah yang diterima, 35 di antaranya telah teridentifikasi. Harry Andromeda menuturkan, kesulitan utama dalam identifikasi adalah karena banyaknya jenazah anak-anak.
“Masalah utamanya karena korban anak-anak. Tiga perempat dari jenazah yang belum teridentifikasi adalah anak-anak. Mereka datang dalam kondisi membusuk pada hari kelima atau keenam. Banyak juga kasus satu keluarga hilang atau meninggal, sehingga ketika diumumkan, tidak ada keluarga yang melapor ke posko antemortem,” jelasnya.
Sebagai langkah terakhir, rumah sakit mengambil sampel DNA dari jenazah yang tidak dapat dikenali secara visual maupun medis. “Kami sudah mengambil sampel DNA dari jenazah yang tidak bisa diidentifikasi. Nantinya, sampel tersebut akan dicocokkan dengan DNA keluarga yang diduga memiliki hubungan dengan para korban,” terangnya Kamis (4/12/2025).
Pihak rumah sakit mengimbau masyarakat yang kehilangan anggota keluarga untuk melapor dan memberikan data antemortem ke posko yang telah disiapkan agar proses DVI dapat berjalan lebih cepat.











